Tentara Tuhan kota vs tentara Tuhan desa

•June 4, 2008 • 3 Comments

Tentara Tuhan kota vs tentara Tuhan desa

( Dan Tuhan pun tak ada)

Tempat seperti bebatuan akan sangat penting. Sepenting wanita bagi pria, sepenting puting seorang ibu bagi bayi dan suaminya. Kadang semua itu akan terasa aman namun tidak bagi salah satu kerumunan. Kali ini akan ada suatu yang berbeda. Sesuatu yang akan membuat jiwa jiwa para penghuni surga pun enggan berada disana. Enggan karena hari itu hari berdirinya sebuah jemaah. Mereka akan muncul kedunia. Hari ini sudah seharusnya warga negara Islam keras hancur. Kita tahu bahwa salah nama akan membuat seseorang sekecil kecoa pun besar.

Hari ini adalah hari kebangkitan buat warga warga di manapun berada, kebangkitan bagi jiwa yang telah lama berduka. Yang telah lama dipinjam namanya. Ingatlah jiwa kita berada disebuah garis. Garis yang berupa merah bagai benang. Menangislah bersama sama untuk kemudian berhimpitan dengan cendol yang berada bagai slilit. Aku tahu itu sangat menyakitkan namun coba untuk dengarkan bahwa mulai hari ini ketika kita! sekelompok orang orang sama sama menangis karena nasibnya yang dari dulu tidak berubah.

Jemaah itu bernama jemaah anti agama keras, bagi orang orang yang sedang murung karena perbuatan orang, mati karena bertengkar, bagi yang suka bola, bagi yang suka makan. dan yang suka bertengkar lebih baik disurga surga yang telah lama ditinggal orang orang didalamnya, baik yang suka menyanyi, bagi yang suka akan kemerdekaan mutlak. Jemaah itu adalah jemaah yang sangat penting karena kita tahu warga negara agama keras sudah mulai tidak becus kinerjanya. Semua dimusuhinya. Kekerasan yang dibela. Sudah saharusnya di kudeta. Hari itu hari perjuangan sudah saatnya orang orang berkumpul untuk merenungi nasibnya bukan Cuma agama

Nasib harus diperangi, karena kita tahu bahwa nasib tak bisa dilawan. Tapi kita tak pungkiri bahwa berdiam diri hanya milik orang yang suka mengebiri burungnya sendiri.

Keajaiban untuk tetap hidup karena bukan agama, jauh lebih berharaga dari pada orang yang beragama. Kita bukan tak beruntung, kita tak sedang dipermainkan tuhan yang tertawa terpingkal pingkal karena lihat tangisan kita mengalir malu malu. Coba lihat… dangan kacamata kerbau, lihatlah! Aku ingin seribu agama mati. Yang dilihat oleh penduduk 16 negara. Itulah jawaban yang pantas. Tetap tersenyumlah walau kau menangis karena memang sudah seharusnya. Aku yakinkan tidak ada seorang bijakpun di dunia yang akan berdiri tegak ketika sudah berhadapan dengan Agama. Seorang osama bin laden pun mati karena itu.

Saya adalah orang yang sangat patuh pada orang tua. Dan mau mati karenanya. Jadi jangan usik ayah saya. Dan gusdur adalah ayah saya. tak boleh ada yang tertawa pada gusdurian sejati. Aku tak berniat berdiskusi jika ayah saya dihina. Tak boleh. Satupun. Pun dengan orang orang yang dengan seenaknya mau menghakimi. Tangan saya tak sebesar tyson. Dan otak saya tak seencer bensin. Tapi ingat saya masih punya katapel dirumah.

Panggilan untuk semua orang yang peduli pada agama, jemaah ini untuk kita bersama, menangislah bersama sama sambil ucapkan kalimat untuk mengutuk tuhanya masing masing. Tak pantas kita berdiam diri, karena kita mirip kata allhamdullah yang sering diucapakan oleh anak kecil sambil main judi.

Bergabunglah karena hari itu mungkin kita akan mati bersama sama. Kita akan hidup untuk hari ini bukan karena kemarin dan juga untuk besok. Jemaah kita punya komitmen bersama bahwa agama sebenarnya bukan jalan satu satunya. Tertawalah kawan dalam ketiak masing masing karena kita yakin itu akan menghanguskan musuh bebuyutan kita, warga negara agama keras.

Nikahi aku mbak

•June 1, 2008 • 5 Comments

aku tak tahu malu tak tahu malu menginkan mbakku sendiri

keluar dari rahim yang sama

tak perduli kata mereka

tak perduli kata ustadz yang tak mesti lebih mulia dariku

mbak aku ingin menikah denganmu walau umurmu jauh diatasku

aku bocah mengingatmu terlalu baik buatku

aku menginginkanmu lewat jalan tuhan yang baik

namun auman marah ayahku tak akan mengijinkan

satu persatu beruntuhan

tak beraturan

dasar anak tuhan

Kita sudah tergelincir kawan

Terjatuh merah dalam lumpur nanah

Dari pohon pakem yang arang tak buat patah

Hatiku patah kawan, jangan pernah tertawa

Dalam kereta dorongmu kau tersenyum malu

Hai iblis sadarlah didepanmu ada!

Tak adakah ramah baru dihatimu?

Hanya itulah yang ada di ubanmu

Katamu kau sakit, kataku kau tak tahu malu

Ikut dik, ikut dalam seleramu yang keliru

Tanganmu harus mengeluh “aduh”

Tidak! Tidak! Negaramu tak rugi dengan sakitmu

Haruskah aku keluarkan biji mataku

Janganlah pantatmu merebut lubang anusku

Janganlah doamu membingkai ketakutanmu

Matahari itu lelembut dan jangaan kau tunggu

Anehkah suaraku, dalam gemerlap gumun pilu

Subur hatimu biarkan tiba tiba menjadi arang – merangas

Kematianmu? Sebutlah itu sebagai masa lalu.

blog bukan blok

•May 9, 2008 • 5 Comments

kala pagi tiba. bukan kau yang kutemui. apalagi fajar yang sangat siap untuk dinikmati.

hanya udara, lampu neon kecil lima watt dan badan kekasihku yang semalam sudah tercabik cabik.

keluarga bencana

•April 16, 2008 • 1 Comment

Keluarga Bencana

Semboyan akrab yang sering didengar di era soeharto, “Dua anak cukup! Keluarga Kecil, Keluarga Bahagia” didengungkan dari TVRI sampai radio radio dipelosok desa desa di Indonesia. Sayang semuanya hanya begema pada era 80 an sampai era 90 an. Padahal program yang ditujukan untuk menekan jumlah penduduk di Indonesia ini sempat menjadi acuan dari berbagai Negara dunia. Bahkan PBB sempat memberikan Penghargaan Tertinggi di Bidang Kependudukan atau UN Population Award yang disampaikan langsung oleh Sekjen PBB Javier de Cuellar di markas besar PBB di New York.

Sebelum adanya program Keluarga berencana pada tahun 1970, diproyeksikan penduduk Indonesia pada tahun 2000 berjumlah sekitar 285 juta jiwa. Akan tetapi, dengan program KB yang terus digalakkan dengan oprasional lapangan dan melakukan penyuluhan dengan dibentuknyah tenaga penyuluh lapangan KB (PLKB) yang berjumlah 40000 orang. Jumlah penduduk tahun 2000 hanya 205 jiwa, yang berarti jumlah kelahiran dapat dicegah sekitar 80 juta jiwa.

Seiring dengan perubahan dari sentralisasi ke era otonomi daerah. Masalah kependudukan jarang diperbincangkan. Pada saat ini data yang diperoleh dari BKKBN jumlah penduduk mencapai 222 juta orang. menempati urutan keempat di dunia dan 60 juta diantaranya penduduk miskin. Hal itu disebabkan oleh mati surinya program KB dan tidak adanya pengertian dari masyarakat itu sendiri dan disebabkan tidak adanya pemahaman yang sama antar daerah kota atau kabupaten tentang pentingnya mengendalikan pertumbuhan penduduk.

Namun dari semua program pengendalian pertumbuhan penduduk. Mau tidak mau pemerintah juga harus lebih memperhatikan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan penduduk di berbagai daerah. Sebagai perbandingan. Di China di huni oleh 1,3 penduduk yang berarti lima kali lipat lebih Indonesia namun mempunyai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Sementara di negara kita sebagian besar masih bermukim di satu pulau. Ketidakmerataan dalam distribusi penduduk menjadi problem struktural dan dari sanalah kemudian timbul banyak masalah termasuk pertanahan dan masalah lainnya.

Masalah yang ditimbulkan dari pertumbuhan penduduk yang tak terkendali bukan main main. Berdampak pada masalah penyediaan pangan, meningkatnya pengangguran, kriminalitas dan masalah sosial ekonomi lainnya. Jadi sudah seharusnya pemerintah melakukan pembenahan dan melakukan terobosan baru. Serta meningkatkan kinerja program KB yang juga tidak terlepas dari masalah. Seperti terlalu banyaknya departemen Negara yang menangani masalah kependudukan sehingga terkesan terpisah pisah seperti Departemen tentang kuantitas penduduk oleh BKKBN, ketenagakerjaan dan mobilitas penduduk oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, kualitas penduduk oleh Departemen Kesehatan, Departemen Agama dan Departemen Pendidikan, serta problem masyarakat rentan oleh Departemen Sosial.

Jadi untuk pembenahan yang harus dilakukan adalah pemahaman yang baik oleh pemerintah tentang demografi, rule of law termasuk penghormatan pada tegaknya HAM dan ruang yang cukup bagi civil society untuk melaksanakan perannya. Juga masyarakat yang mempunyai pemahaman baik tentang bencana yang akan datang ketika mempunyai keluarga terlalau banyak.

“sentuhan nalar warna” melihat warna diantara makna

•April 15, 2008 • 1 Comment

sayang memang ketika saya tiba tiba harus berhenti ketika melihat lampu merah menyala di sebuah persimpangan. tanpa sadar saya marah kenapa harus warna merah. kenapa gak pinksaja. kan saya lebih suka pink. sampai rumah saya melampiaskan marah kepada ibu. dia terdiam! tak lama kemudian tersenyum, “yahh kalau pink nanti negara kita dianggap negara cewek..!

aku masuk kamar dan tertawa. kalau dipikir kenapa wanita punya warna. ranger pink ya wanita. aduhh

malam tiba! karena bosan saya keluar kamar untuk menghirup udara malam. tiba tiba diatas pohon bertengger kain warna putih. tanpa sadar saya sudah dikamar lagi dengan ketakutan. tanpa berfikir. saya terdiam beberapa saat. kemudian saya tertawa lagi. putih? kenapa saya tak takut pada kain yang berwarna pink atau kuning saja.

memang ternyata semua ada sejarahnya

warna menjadi sebuah identitas. bahkan warna menjadi sebuah simbol yang bermakna.  saya terduduk memikirkan semua pergerakan pergerakan yang memakai hitam sebagai warna kejahatan.  dari kaum sosialis di  jerman dan lain lain. mungkin terjadi awal di tahun 1880 dimana pertama ada warna hitam di jadikan warna dari sebuah bendera.

aku tertidur. sakit. kapan kapan saya akan memikirkannya lagi

aku

•April 14, 2008 • 2 Comments

Aku ibu dan bapakku

Malam itu bapakku bertengkar dengan ibuku!

Tentang siapa aku?

Kata bapakku aku anak bapakku

Kata ibuku aku anak ibuku

Kataku anak siapa aku?

Aku bertanya pada nenekku anak siapa aku?

Kata dia anak ibuku dan bapakku

Aku Tanya lagi kenapa bapakku bilang aku anak bapakku?

Nenek bilang aku tak tahu.!

Aku bertanya pada kakekku anak siapa aku?

Kata dia aku anak bapakku dan ibuku

Aku Tanya lagi kenapa ibuku bilang aku anak ibuku?

Kakek bilang apa peduliku.!

Aku Tanya pada pak sopir anak siapa aku?

Dia tersenyum malu

Aku Tanya lagi anak siapa aku?

Dia tertawa terbahak bahak

Aku memakasa dia “anak siapa aku”?

“Haha Kamu anakku”

Lelaki yang Menangis

•April 13, 2008 • 1 Comment

Aku tahu cinta bukan sebuah kenangan. Bukan sesuatu yang pantas untuk diperdebatkan. Walau cinta sudah menjadi tema yang populer dari zaman kezaman. Namun bagiku cinta bukan hanya sekedar sebuah permainan awal dari sebuah sandiwara. Pertemuanku dengan Mulan bisa jadi membuatku sadar akan satu hal. Bahwa diatas cinta ada sebuah kebebasan. Ketakterikatan yang sangat agung. Mulan sosok kesekian yang membuat aku terkapar dari dunia nyata kedunia yang mungkin aku tak ingat lagi namanya.

Namaku adil, orang dikampungku biasa menyebut aku si pandir. Karena sifatku yang terlalu kekanakan dan lugu. Tetapi itu ketika aku masih berumur belasan. Ketika aku masih SMP dulu. Masih kuingat setiap kali datang aku berjalan dengan ingus bagai es krim cair yang tak pernah beku. Masih kuingat badanku yang berbau setiap kali datang kesekolah karena tak pernah mandi. Juga betisku tak pernah sepi mengalir darah merah karena terlalu sering digaruk. Nafasku terengah-engah ketika seorang guru datang dengan mistar kayu- mengejar- karena aku dan kawanku tak ikut upacara. Dan masih kuingat rumah yang tak akan pernah kulupa saat ini. Tampak bagus diantara rumah yang lain. Hanya berjarak beberapa meter dari SMPku. Konon yang punya seorang polisi. Tak ada yang hebat dari rumah tersebut kecuali seorang gadis kecil dengan rok biru dan baju putih yang biasanya berubah jadi coklat ketika sore.